Presiden Soekarno

Ir Soekarno dikenal sebagai Presiden pertama Republik Indonesia dan juga sebagai Pahlawan Proklamasi, Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan wafat pada tanggal 21 Juni 1970 di Jakarta. Saat ia lahir dinamakan Koesno Sosrodihardjo. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika..

Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar. Semasa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar "Ir" pada 25 Mei 1926.

Kemudian, beliau merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Saat dipenjara, Soekarno mengandalkan hidupnya dari sang istri. Seluruh kebutuhan hidup dipasok oleh Inggit yang dibantu oleh kakak kandung Soekarno, Sukarmini atau yang lebih dikenal sebagai Ibu Wardoyo. Saat dipindahkan ke penjara Sukamiskin, pengawasan terhadap Soekarno semakin keras dan ketat.

Dia dikategorikan sebagai tahanan yang berbahaya. Bahkan untuk mengisolasi Soekarno agar tidak mendapat informasi dari luar, dia digabungkan dengan para tahanan 'elite'. Kelompok tahanan ini sebagian besar terdiri dari orang Belanda yang terlibat korupsi, penyelewengan, atau penggelapan. Tentu saja, obrolan dengan mereka tidak nyambung dengan Bung Karno muda yang sedang bersemangat membahas perjuangan kemerdekaan. Paling banter yang dibicarakan adalah soal makanan, cuaca, dan hal-hal yang tidak penting. Beberapa bulan pertama menjadi tahanan di Sukamiskin, komunikasi Bung Karno dengan rekan-rekan seperjuangannya nyaris putus sama sekali. Tapi sebenarnya, ada berbagai cara dan akal yang dilakukan Soekarno untuk tetap mendapat informasi dari luar.

Hal itu terjadi saat pihak penjara membolehkan Soekarno menerima kiriman makanan dan telur dari luar. Telur yang merupakan barang dagangan Inggit itu selalu diperiksa ketat oleh sipir sebelum diterima Bung Karno. Seperti yang dituturkan Ibu Wardoyo yang dikutip dalam buku 'Bung Karno Masa Muda' terbitan Pustaka Antarkota tahun 1978, telur menjadi alat komunikasi untuk mengabarkan keadaan di luar penjara. Caranya, bila Inggit mengirim telur asin, artinya di luar ada kabar buruk yang menimpa rekan-rekan Bung Karno. Namun dia hanya bisa menduga-duga saja kabar buruk tersebut, karena Inggit tidak bisa menjelaskan secara detail.

Seiring berjalannya waktu, Soekarno dan Inggit kemudian menemukan cara yang lebih canggih untuk mengelabui Belanda. Medianya masih sama, telur. Namun, telur tersebut telah ditusuk-tusuk dengan jarum halus dan pesan lebih detail mengenai kabar buruk itu dapat dipahami Bung Karno. Satu tusukan di telur berarti semua kabar baik, dua tusukan artinya seorang teman ditangkap, dan tiga tusukan berarti ada penyergapan besar-besaran terhadap para aktivis pergerakan kemerdekaan.

Selama menjalani masa hukuman dari Desember 1929 hingga dibebaskan pada tanggal 31 Desember 1931, Soekarno tidak pernah dijenguk oleh kedua orangtuanya yang berada Blitar. Menurut Ibu Wardoyo, orang tua mereka Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai tidak sanggup melihat anak yang mereka banggakan itu berada di tempat hina yakni penjara dan dalam posisi yang tidak berdaya.

Apalagi, saat di Sukamiskin, menurut Ibu Wardoyo, kondisi Soekarno demikian kurus dan hitam. Namun Bung Karno beralasan, dia sengaja membuat kulitnya menjadi hitam dengan bekerja dan bergerak di bawah terik matahari untuk memanaskan tulang-tulangnya. Sebab di dalam sel tidak ada sinar matahari, lembab, gelap, dan dingin. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu.

Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.


Biografi Presiden Soekarno

Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir.Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila. Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama.

Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.

Presiden Soekarno semasa hidupnya dikenal memiliki pesona, sehingga dengan mudah menaklukkan wanita-wanita cantik yang diinginkannya. Sejarah mencatat Bung Karno sembilan kali menikah. Namun banyak yang tidak tahu wanita seperti apa yang dicintai Sang Putra Fajar itu. Untuk urusan kriteria ternyata Bung Karno bukanlah sosok pria neko-neko. Perhatian Bung Karno akan mudah tersedot jika melihat wanita sederhana yang berpakaian sopan. Lalu, bagaimana Bung Karno memandang wanita berpenampilan seksi? Pernah di satu kesempatan ketika sedang jalan berdua dengan Fatmawati, Bung Karno bercerita mengenai penilaiannya terhadap wanita. Kala itu Bung Karno benar-benar sedang jatuh hati pada Fatmawati.

Presiden Soekarno dan Ibu fatmawati

"Pada suatu sore ketika kami sedang berjalan-jalan berdua, Fatmawati bertanya padaku tentang jenis perempuan yang kusukai," ujar Soekaro dalam buku 'Bung Karno Masa Muda' terbitan Pustaka Antar Kota. Sesaat Bung Karno memandang sosok Fatmawati yang saat itu berpakaian sederhana dan sopan. Perasaan Bung Karno benar-benar bergejolak, dia sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. "Aku memandang kepada gadis desa ini yang berpakaian baju kurung merah dan berkerudung kuning diselubungkan dengan sopan. Kukatakan padanya, aku menyukai perempuan dengan keasliannya, bukan wanita modern yang pakai rok pendek, baju ketat dan gincu bibir yang menyilaukan," kata Soekarno.

"Saya lebih menyukai wanita kolot yang setia menjaga suaminya dan senatiasa mengambilkan alas kakinya. Saya tidak menyukai wanita Amerika dari generasi baru, yang saya dengar menyuruh suaminya mencuci piring," tambahnya. Mungkin saat itu Fatmawati begitu terpesona mendengar jawaban Soekarno yang lugas. Sampai pada akhirnya jodoh mempertemukan keduanya. Soekarno menikah dengan Fatmawati pada tahun 1943, dan dikarunia 5 anak yakni Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. "Saya menyukai perempuan yang merasa bahagia dengan anak banyak. Saya sangat mencintai anak-anak," katanya.

Menurut pengakuan Ibu Fatmawati, dia dan Bung Karno tidak pernah merayakan ulang tahun perkawinan, Jangankan kawin perak atau kawin emas, ulang tahun pernikahan ke-1, ke-2 atau ke-3 saja tidak pernah. Sebabnya tak lain karena keduanya tidak pernah ingat kapan menikah. Ini bisa dimaklumi karena saat berlangsungnya pernikahan, zaman sedang dibalut perang. Saat itu Perang Dunia II sedang berkecamuk dan Jepang baru datang untuk menjajah Indonesia.

"Kami tidak pernah merayakan kawin perak atau kawin emas. Sebab kami anggap itu soal remeh, sedangkan kami selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan besar yang hebat dan dahsyat," begitu cerita Ibu Fatmawati di buku Bung Karno Masa Muda, terbitan Pustaka Antar Kota, 1978.

Kehidupan pernikahan Bung Karno dan Fatmawati memang penuh dengan gejolak perjuangan. Dua tahun setelah keduanya menikah, Indonesia mencapai kemerdekaan. Tetapi ini belum selesai, justru saat itu perjuangan fisik mencapai puncaknya. Bung Karno pastinya terlibat dalam setiap momen-momen penting perjuangan bangsa. Pasangan ini melahirkan putra pertamanya yaitu Guntur Soekarnoputra. Guntur lahir pada saat Bung Karno sudah berusia 42 tahun. Berikutnya lahir Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. Putra-putri Bung Karno dikenal memiliki bakat kesenian tinggi. Hal itu tak aneh mengingat Bung Karno adalah sosok pengagum karya seni, sementara Ibu Fatmawati sangat pandai menari.

Sejak kecil, Soekarno sangat menyukai cerita wayang. Dia hapal banyak cerita wayang sejak kecil. Saat masih bersekolah di Surabaya, Soekarno rela begadang jika ada pertunjukan wayang semalam suntuk. Dia pun senang menggambar wayang di batu tulisnya. Saat ditahan dalam penjara Banceuy pun kisah-kisah wayanglah yang memberi kekuatan pada Soekarno. Terinspirasi dari Gatot Kaca, Soekarno yakin kebenaran akan menang, walau harus kalah dulu berkali-kali. Dia yakin suatu saat penjajah Belanda akan kalah oleh perjuangan rakyat Indonesia.

"Pertunjukan wayang di dalam sel itu tidak hanya menyenangkan dan menghiburku. Dia juga menenangkan perasaan dan memberi kekuatan pada diriku. Bayangan-bayangan hitam di kepalaku menguap bagai kabut dan aku bisa tidur nyenyak dengan penegasan atas keyakinanku. Bahwa yang baik akan menang atas yang jahat," ujar Soekarno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams "Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang diterbitkan Yayasan Bung Karno tahun 2007. Soekarno tidak hanya mencintai budaya Jawa. Dia juga mengagumi tari-tarian dari seantero negeri. Soekarno juga begitu takjub akan tarian selamat datang yang dilakukan oleh penduduk Papua. Karena kecintaan Soekarno pada seni dan budaya, Istana Negara penuh dengan aneka lukisan, patung dan benda-benda seni lainnya. Setiap pergi ke daerah, Soekarno selalu mencari sesuatu yang unik dari daerah tersebut. Dia menghargai setiap seniman, budayawan hingga penabuh gamelan. Soekarno akan meluangkan waktunya untuk berbincang-bincang soal seni dan budaya setiap pagi, di samping bicara politik.

Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan
penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Saat-saat diasingkan di Istana Bogor selepas G-30S/PKI, Soekarno membunuh waktunya dengan mengiventarisir musik-musik keroncong yang dulu populer tahun 1930an dan kemudian menghilang. Atas kerja kerasnya dan beberapa seniman keroncong, Soekarno berhasil menyelamatkan beberapa karya keroncong. Setlah itu Kesehatannya terus memburuk, yang pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah menganugerahkannya sebagai "Pahlawan Proklamasi".

Biografi Presiden Soekarno

Detik Detik Kematian Sang Presiden
- Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970. Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir.

- Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer.

- Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.

- Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa, dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.

- Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu

- Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini.

- “Pak, Pak, ini Ega…”

- Senyap.

- Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi.

- Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar.

- Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap dengan senjata.

- Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia coma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.

- Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah.

- “Hatta.., kau di sini..?”

- Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur.

- “Ya, bagaimana keadaanmu, No ?”

- Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.

- Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal. “Hoe gaat het met jou…?” Bagaimana keadaanmu?

- Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno.

- Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.

- Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.

- “No…” Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang.

- Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus.

- Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.

- Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka. Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.

- Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.

- Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi.

- Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.

- Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.

- Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada.

- Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Soekarno telah meninggal.

Isu di bunuh secara perlahan

Banyak Keyakinan orang banyak bahwa Bung Karno dibunuh secara perlahan mungkin bisa dilihat dari cara pengobatan proklamator RI ini yang segalanya diatur secara ketat dan represif oleh Presiden Soeharto. Bung Karno ketika sakit ditahan di Wisma Yasso (Yasso adalah nama saudara laki-laki Dewi Soekarno) di Jl. Gatot Subroto. Penahanan ini membuatnya amat menderita lahir dan bathin. Anak-anaknya pun tidak dapat bebas mengunjunginya.

Banyak resep tim dokternya, yang dipimpin dr. Mahar Mardjono, yang tidak dapat ditukar dengan obat. Ada tumpukan resep di sebuah sudut di tempat penahanan Bung Karno. Resep-resep untuk mengambil obat di situ tidak pernah ditukarkan dengan obat. Bung Karno memang dibiarkan sakit dan mungkin dengan begitu diharapkan oleh penguasa baru tersebut agar bisa mempercepat kematiannya.

Permintaan dari tim dokter Bung Karno untuk mendatangkan alat-alat kesehatan dari Cina pun dilarang oleh Presiden Soeharto. “Bahkan untuk sekadar menebus obat dan mengobati gigi yang sakit, harus seizin dia, ” demikian Rachmawati Soekarnoputeri pernah bercerita.

Biografi Presiden Soekarno

Kata Kata Bijak Soekarno
  1. Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu ! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, dari pada makan bestik tetapi budak. [Pidato HUT Proklamasi, 1963]
  2. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. (Pidato Hari Pahlawan 10 Nop.1961)
  3. Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.
  4. Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun.
  6. Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.
  7. ……….Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan……
  8. Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai ! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat.
  9. Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia
  10. Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya
  11. Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang.

LAWAN AROGANSI

Teringat Pernyataan Wiji Thukul "Hanya Satu Kata Lawan"

Kini tiba saatnya kita lakukan ke-serentak-an
guna melawan kesewenang-wenangan
ketika sang pengambil kebijakan
melakukan arogansi

LAWAN!!!!

 

MALAM SEMAKIN LARUT SEMBARI MEMIKIRKAN ESOK ADA PERTEMUAN FORUM

Antara Pencitraan dan Pendidikan Politik

Sejalan dengan perubahan sistem pemilihan umum di Indonesia, bentuk-bentuk kampanye politik turut berubah. Penggunaan konsultan politik merupakan salah satu cara kampanye modern yang banyak dilakukan saat ini.
Melalui survei yang dilakukan konsultan politik, parpol atau politisi bisa mengetahui perilaku pemilih, membuat pertimbangan untuk menentukan calon, membuat program kampanye, dan mengetahui hasil pemilihan lewat penghitungan cepat. Selain itu, konsultan politik bisa memoles calon atau parpol melalui kampanye pencitraan di media massa.
Meski terbilang modern, kampanye dengan pencitraan melalui iklan politik itu mempunyai kecenderungan manipulatif. Pengamat politik J Kristiadi dari CSIS mengingatkan, iklan politik mirip dengan reklame produk komersial. Iklan politik dapat mengubah seorang politisi medioker menjadi pemimpin karismatik. Yang terjadi adalah ironi politik. Mereka yang bekerja keras, mempunyai kompetensi dan kapabilitas, terpaksa kalah dari mereka yang populer (Kompas, 25/11/2008). Selain itu, rakyat sebagai pemilik suara kurang bisa mendapatkan informasi yang komprehensif dan benar tentang sosok atau parpol yang ditawarkan.
Di masa Orde Baru, hubungan parpol dan konstituen selalu berjarak. Golkar mendominasi hampir setiap aktivitas kampanye pemilu. Kampanye Golkar selalu dipadati massa dan simpatisan. Namun, hal itu terjadi karena mobilisasi massa dilakukan. Alhasil, rakyat menjadi biasa memilih Golkar sebagai kewajiban di era Orba, dan bukan karena mendapatkan pendidikan politik yang baik.
Paling demokratis
Kondisi itu jauh berbeda dengan kampanye Pemilu 1955 yang dikenal sebagai pemilu pertama dan disebut-sebut sebagai salah satu pemilu yang paling demokratis. Melalui kampanye tradisional seperti pengalangan massa, pertemuan-pertemuan, rapat umum, dan orasi tokohnya, parpol peserta Pemilu 1955 gigih menggalang dukungan pemilih hingga ke desa-desa.
Selain memperkenalkan tanda gambar yang akan dicoblos, mereka juga melakukan kegiatan sosial untuk membangun basis massa yang lebih permanen dan bersifat jangka panjang. Tak heran bila jarak antara pengurus parpol dan konstituen terbilang dekat. Pemilih memiliki ikatan efektif dengan partai yang didukungnya. Bahkan, terjalin ikatan yang kuat antara parpol dan anggotanya dengan menerapkan kartu anggota.
Disebutkan bahwa partai-partai besar seperti PNI, NU, Masyumi, dan PKI giat memperagakan lambang partainya dan menerapkan kartu anggota. Menjelang pemilu, jumlah anggota PNI tercatat 5,2 juta orang dan PKI sekitar 1 juta orang. Kampanye yang dilakukan parpol pada saat itu menciptakan semangat kolektivitas di tingkat desa. Parpol mampu menjalankan fungsi-fungsi sosial yang penting di desa seperti gotong royong dan kegiatan sosial.
Saat ini, sistem politik telah berubah total pasca-Reformasi. Format keterbukaan dan dialog langsung kembali diinginkan publik sebagaimana yang dulu pernah berlangsung.
(ERI/LITBANG KOMPAS)

“Politik Berlandaskan Etika Dan Moralitas” Oleh I Wayan Gede Suacana

Om sam gacchadhvam sam vadadhvam
sam vo manamsi janatam,
deva bhagam yatha purve
samjananam upasate
samani va akutih samana hrdayani vah
samanam astu vo mano yatha vah
susahasati
Rg Veda X 191.2,4.
MAHATMA Gandhi menyatakan salah satu dosa sosial yang menjadi penyebab merosotnya kualitas kehidupan masyarakat ialah penyelenggaraan kehidupan politik tanpa dilandasi oleh prinsip dasar (politics without principles). Kehidupan politik lebih banyak berisi permainan uang, kata dan perebutan kuasa sebagai gejala infantilisme yang jauh dari dunia pikir, refleksi dan kontemplasi.
? Citra Politik
Pemikiran bahwa politik itu kotor, akal-akalan, tipu muslihat, licik, serta kejam dalam mencapai suatu tujuan, hingga kini masih dianut oleh sebagian orang. Politik dan tentu saja para politikusnya, seringkali didentikkan dengan wilayah pragmatisme dan oportunisme yang lebih mengutamakan kepentingan sendiri atau golongan dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan. Untuk mencapai tujuan itu dapat dihalalkan segala cara.
Pandangan yang banyak diilhami oleh pemikiran politikus asal Italia Nicollo Machiavelli ini, beranggapan tujuan utama dalam berpolitik adalah mengamankan kekuasaan yang sudah dipegang. Politik dan moralitas bagi kaum Machiavellian merupakan dua bidang yang terpisah dan tidak ada hubungan satu dengan yang lain. Kekuasaan bagi mereka bersifat sekuler yang tak memiliki kaitan dengan dunia spiritual.
Dalam praktik kehidupan politik di negeri ini, politisi tampaknya memahami hakekat politik secara sempit dan konservatif. Politik dimengerti terbatas pada cara bagaimana seorang politikus atau parpol dapat memenangkan pemilu, meraih kursi atau posisi di legislatif dan eksekutif, kemudian melanggengkannya sehingga memperoleh posisi “terhormat” dalam masyarakat. Di samping itu, terjun ke “dunia” politik dianggap menjanjikan penghasilan besar lewat jalan pintas, tanpa syarat pendidikan tinggi. Hanya sebagian kecil saja dari mereka yang memandang politik sebagai salah satu cara untuk menata kehidupan negara agar terwujud kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran rakyat.
Kebanyakan politisi masih dikuasai hasrat berkuasa ketimbang sebagai “penyambung lidah” dan penyalur aspirasi rakyat. Tanpa ada beban moral sedikit pun, mereka kerap melupakan begitu saja janji-janji kampanyenya setelah mereka berkuasa. Pada titik inilah, masyarakat dibuat kecewa, sinis dan skeptis dengan politik. Dalam khasanah ketatanegaraan, kondisi ini menghambat munculnya pemimpin ideal yang sesuai harapan rakyat. Pemimpin dari kalangan politisi yang dihasilkan belum mampu memberikan pengayoman, ketenangan dan panutan bagi rakyat karena lebih banyak mengurus kepentingan partai daripada memikirkan alternatif kebijakan publik. Isu-isu krusial seputar kebutuhan pokok (basic needs), seperti: pangan, perumahan, pendidikan, dan kesehatan belum banyak disentuh dan dimasukkan dalam agenda kebijakan.
Begitu pula, dialog dari hati ke hati secara intensif dalam memformulasikan kebijakan, baik antara sesama politisi atau parpol nyaris tidak berjalan mulus, kecuali ada kesamaan kepentingan temporer yang lebih besar. Kondisi “anomali” ini mengandung resiko yang oleh Erich Fromm disebut gejala konflik laten di bawah kedok kebersamaan. Hal ini praktis telah menggeser sendi-sendi toleransi dan kebersamaan dalam kehidupan politik. Lawan politik dilihat sebagai segmen yang terpisah, bukan sebagai kesatuan yang utuh lagi. Cara pandang ini mengakibatkan makin hidupnya sistem persaingan tak sehat antar caleg atau parpol dan semakin memudarkan kesediaan untuk dapat saling menerima.
? Etika dan Moralitas
Dalam kondisi seperti itu, prinsip-prinsip etika dan moral menjadi terabaikan. Giovanni Sartori pernah mengemukakan tiga tindakan politik negatif yang paling mutakhir. Berturut-turut adalah hilangnya etika–khususnya etika pelayanan bagi rakyat, terlalu banyaknya uang yang menggoda para penguasa dan terlalu mahalnya biaya politik hingga proses politik kian sulit dikendalikan. Svami Sathya Narayana (Wacana Mutiara: 69-70) menyayangkan bahwa para pelajar yang murni, lembut dan baik diresahkan, dicemaskan dan dirusak oleh beberapa pemimpin politik untuk mencapai tujuan-tujuan egois mereka. Politik itu sendiri baik, tetapi tidak baik untuk para pelajar. Kehidupan politik lebih baik diikuti setelah para pelajar tamat sekolah.
Oleh karena itu, seseorang yang akan berkecimpung di dalam kehidupan politik perlu menetapkan prinsip-prinsip dasar sebagai nilai ideal yang selalu disertakan dalam menetapkan cita-cita, memilih strategi, membuat keputusan dan dalam mengambil tindakan-tindakan nyata untuk kemajuan bersama. Prinsip dasar tersebut akan menumbuhkan dimensi etika dan moral pada pelaksanaan tugas dan kewajiban kepada masyarakat, bangsa dan negara dengan memberikan apa yang terbaik untuk kesejahteraan masyarakat.
Etika, atau filsafat moral mempunyai tujuan menerangkan kebaikan dan kejahatan (Teichman, 1998). Etika politik, dengan demikian, memiliki tujuan menjelaskan mana tingkah laku politik yang baik dan sebaliknya. Standar baik dalam konteks politik bagaimana politik diarahkan untuk memajukan kepentingan umum. Jadi kalau politik sudah mengarah pada kepentingan yang sangat pribadi dan golongan tertentu, itu politik yang tak beretika. Etika politik bisa berjalan kalau ada penghormatan terhadap kemanusiaan dan keadilan. Ini merupakan prasyarat mendasar yang perlu dijadikan acuan bersama dalam merumuskan politik demokratis yang berbasis etika dan moralitas.
Ketidakjelasan secara etis berbagai tindakan politik di negeri ini membuat keadaban publik saat ini mengalami kehancuran. Fungsi pelindung rakyat tidak berjalan sesuai komitmen. Keadaban publik yang hancur inilah yang seringkali merusak wajah hukum, budaya, pendidikan dan agama. Rusaknya sendi-sendi ini membuat wajah masa depan bangsa ini semakin kabur. Sebuah kekaburan yang disebabkan karena etika tidak dijadikan acuan dalam kehidupan politik.
Rakyat hanya disuguhi hal yang menyenangkan dan bersifat indrawi belaka. Artinya hanya diberi harapan tanpa realisasi. Inilah yang membuat rakyat terajari agar menerapkan orientasi hidup serba instan melalui berbagai bentuk simulakrum politik lewat kegiatan simakrama, dharma swaka dsb. Batas antara kebenaran dan kewajaran dikaburkan oleh keinginan dan kepentingan yang tak terbatas. Dalam Kakawin Nitisastra (Sargah XIII:9 Wirama Sardulawikridita) dinyatakan:
Ring wwang wastung iweh hinuttama, hane dehanya nityaneneb, sangkeng lobhanikangalap guna, muwah ring harsa tan kagraha, yekangde hilanging sakawruhika, ring purwatemah wigraha, nda tan kagraha rakwa teki, wekasan sirnabalik nirguna.
(Pangkal kesulitan yang terbesar bagi manusia tersembunyi dalam dirinya sendiri/ Nafsu loba menyebabkan orang tak dapat mencapai kebaikan yang dicita-citakan/ Itu pula yang menyebabkan semua pengetahuan yang dikumpulkan sejak lama hilang/ Kemudian tidak dapat dicari akhirnya habis tanpa meninggalkan bekas/)
Oleh karena itu dalam kitab Arthasastra ditegaskan bahwa seorang pemimpin berkewajiban mewujudkan kebaikan bagi rakyatnya. Menurut Kautilya, penulis buku ini, pemimpin harus berprinsip lebih banyak menyediakan waktu untuk rakyat. Ia harus bisa membagi waktu: 4 jam untuk istirahat, 3 jam untuk makan dan hiburan, serta selebihnya diabdikan kepada rakyat. Jadi, seorang pemimpin harus rela mengorbankan sebagian besar waktunya untuk melayani kepentingan rakyat.
Beberapa prinsip moral yang harus dipegang agar menjadi pemimpin yang baik menurut Svami Sathya Narayana adalah dimilikinya karakter individu (pribadi) dan karakter nasional. Dengan melepaskan kepentingan pribadi, melepaskan secara total pikiran kepemilikan “punyaku” dan “punyamu”, pemimpin sejati harus mempersembahkan segala kemampuannya bagi kesejahteraan bersama dan mengangkat reputasi negaranya.
? Lima Pilar Utama
Diperlukan lima pilar utama bagi pemimpin sebagai persiapan melakukan pelayanan (seva) tertinggi bagi rakyat dan negara. Pertama, sathya, memegang teguh kebenaran dan berusaha terus-menerus memperjuangkannya, betapa pun pahitnya. Dalam mengungkapkan kebenaran hendaknya bisa menimbulkan kebaikan bersama, dan tidak mencelakakan serta mengorbankan pihak lain. Kebenaran yang dipraktikkan dengan cara itu akan dapat mengatasi sekat-sekat perbedaan parpol, ideologi bahkan keyakinan.
Kedua, dharma, menerapkan kebajikan tanpa memperhitungkan kepentingan sendiri atau golongan, serta menggunakan tubuh dan pikiran untuk kebaikan orang banyak. Sariram Aadyam Khalu Dharma Saadhanam. Tubuh dan pikiran terutama ditujukan untuk pencapaian jalan kebajikan. Tubuh dan pikiran harus melakukan bermacam-macam fungsi demi kebaikan masyarakat, bangsa dan negara.
Ketiga, shanti, menumbuhkan kedamaian setiap saat yang terpancar dari kesadaran akan realitas di dalam diri. Keadaan ini merupakan manifestasi dari sat, keberadaan murni dari jiwa, karena kedamaian sendiri melampaui pemahaman. Visi sakral berkombinasi dengan kebebasan jiwa menghasilkan kedamaian yang dalam kenyataannya merupakan “madhura-ananda” atau kebahagiaan bagi seluruh rakyat.
Keempat, prema, memupuk cinta kasih murni tanpa ego. Bisa mengatasi kepicikan di dalam diri dan mengidentifikasikan diri dengan golongan lain dalam satu kesatuan. Politisi yang memiliki cinta kasih bagi yang lain, dengan berpegang pada kebenaran, dan membaktikan dirinya untuk kebaikan orang lain, dialah pelayan rakyat yang sebenar-benarnya.
Kelima, ahimsa, pantang menggunakan cara-cara kekerasan. Penyelesaian masalah dengan kekerasan justru akan mengundang kekerasan baru. Kekerasan bukannya menyadarkan lawan politik tetapi justru menyuburkan kebencian dan rasa dendam. Sebaliknya, dengan paham pantang kekerasan, caleg atau politisi dapat mengembangkan cinta kasih dan kemampuannya sehingga dapat mengaktualisasikan diri sebagai makhluk sosial yang menghargai heterogenitas, inklusivisme, pertukaran mutual, toleransi dan kebersamaan.
? Penutup
Dengan kelima pilar utama dan prinsip-prinsip moral itu, kita berharap akan semakin banyak lagi caleg atau politisi yang kelak akan menjadi pemimpin baik serta berpihak pada rakyat. Mereka yang menata dirinya secara inklusif, mengedepankan penerimaan tanpa diskriminasi, serta menghindari persaingan yang memicu konfik politik. Salah satu hymne dalam kitab Rg Veda telah mengisyaratkan pentingnya rasa kebersamaan itu. Sam gacchadhvam, sam vadadhvam, sam vo manamsi janatam.
Berkumpullah, berdiskusilah bersama, buatlah pikiranmu bersatu padu. Dengan pikiran yang bersatu padu itu akan bisa menumbuhkan keyakinan yang sama. Sebab,
Di mana ada keyakinan, di sana ada cinta kasih,
Di mana ada cinta kasih, di sana ada kedamaian,
Di mana ada kedamaian, di sana ada kebenaran,
Di mana ada kebenaran, di sana ada Tuhan,
Di mana ada Tuhan, di sana ada kebahagiaan.
(Diskursus Sathya Sai Baba, 21-11-1999)

Pendidikan Politik: Wajah Demokrasi Bangsa

Esensi terpenting dari pendidikan politik ( political education)adalah pendidikan kewarganegaran (civic education) untukmengetahui tugas dan tanggung jawab sebagai warga negaraatau lebih tepat lagi disebut pendidikan politik adalahpendidikan demokrasi (democracyeducation), pendidikan yangmewujudkan masyarakat demokratis, yaitu masyarakat yangbebas (free society ) yang hanya dibatasi oleh kebebasan itusendiri, bukan masyarakat kolektivisme yang “terpasung” olehatribut-atribut agama atau norma-norma budaya.Dalam kontek inilah diharapkan pendidikan politik mampumelahirkan budaya politik yang sehat, yang hingga padaakhirnya berhasil mewujudkan masyarakat demokratis yangbebas dari bias apapun. Politik yang sehat tentu menjadi syaratutama dalam menghasilkan masyarakat demokratis tersebut.Sebab, tanpa berjalannya politik yang sehat maka tentumasyarakat demokratis atau demokrasi itu sendiri kehilanganarahnya sehingga muncullah kebebasan yang tidak terkontrol,yang pada akhirnya mencederai demokrasi itu sendiri.Di sini lah sebenarnya relevansinya pendidikan politik sebagaiupaya penguatan terwujudnya masyarakat demokratis, tentumelihat ini dalam konteks demokrasi kita yang berjalanmerupakan sebuah keniscayaan dalam upaya mereorientasipendidikan politik—yang telah atau sedang—berlangsung.Makalah ini dimaksudkan untuk mendiskusikan kenyataan yangsesungguhnya dalam ranah praktek pendidikan politik bangsaini.
Wajah Pendidikan Politik Bangsa
Melihat wajah asli pendidikan politik bangsa, terutama pascareformasi tentu saja mengisyaratkan kepada kita bahwapendidikan politik yang berjalan justeru menjadi sesuatu yangmengkhawatirkan. Sebab, pendidikan politik pasca reformasimemperlihatkan wajah yang “bopeng” dalam wajah asli pendidikan politik bangsa kita. Reformasi yang dimaknai sebagaisebuah bentuk pemberontakan terhadap sistem tiran penguasasebelumnya, justeru menjadi tiran baru yang melumpuhkandemokrasi itu sendiri.Dalam wajah pendidikan politik bangsa kita setidaknya ada tigabentuk pendidikan politik, yaitu pendidikan formal danpendidikan informal dan pendidikan non formal. Pendidikanformal politik ini dapat disebut bahwa—hampir—seluruhpendidikan formal, baik dari dasar hingga perguruan tinggi telahdiperkenalkan secara mapan pendidikan politik ini. Begitu jugadalam konteks pendidikan informal politik kita juga banyakdiajarkan politik dengan berbagai konteknya seperti dilingkungan keluarga dan pergaulan dan lainnya. Demikian jugadalam pendidikan non formal pendidikan kita juga telahdiperkenalkan dengan segala bentuk pendidikan politik,termasuk juga carut marutnya.Namun, ketiga bentuk pendidikan politik ini justeru terkesangagal dalam mewujudkan masyarakat demokratis yang menjaditujuan utama pendidikan politik. Jika demikian, tentu yangmenjadi permasalahan adalah strategi dan konten pendidikanpolitik itu sendiri. Untuk dapat disebut misalnya setiap hari kitadiajarkan pendidikan politik pragmatis—sebagaimana yang kitabaca di koran atau yang kita saksikan di TV—hampirsepenuhnya menunjukkan kepada kita bahwa politik tidak lebihhanyalah persoalan kepentingan pribadi di dalamnya.Demikian juga seharusnya partai politik yang bertugas sebagaipensosialisasi utama bentuk pendidikan politik yang sehat.Namun, justeru mengajarkan politik yang “mati rasa” meminjamistilah Ahmad Syafi’i Ma’arif, yang hanya mengedepankankepentingan partai tanpa ada sedikitkan berpihak padakepentingan masyarakat. Ini adalah wajah asli pendidikan politikyang diterima masyarakat setiap saatnya maka konsekuensi ini juga harus dibayar mahal oleh partai politik dengan munculnyakecenderungan untuk berperilaku buruk dalam politik bagimasyarakat dan selebihnya apatis terhadap politik.Dari kenyataan ini menguatnya angka Golput juga menjadikenyataan yang tidak bisa dibantah bagaimana buruknyapendidikan politik kita yang dipraktekkan para politisi bangsa ini.Karena memang salah satu penyebab utama menguatnya angkaGolput disebabkan hilangnya kepercayaan publik terhadap praktek pendidikan politik yang diajarkan para police maker inilah wajah pendidikan politik kita sebenarnya.Menimbang   Peran Mahasiswa Menimbang peran mahasiswa dalam merubah wajah pendidikanpolitik bangsa ini, jelas merupakan sesuatu yang sangatberalasan. Sebab, mahasiswa memiliki peran tersendiri dalamupaya mewujudkan pendidikan politik yang lebih baik dan moraldari apa yang tampilkan para politisi bangsa ini. Karenamahasiswa memiliki peran sosial sebagai agent of change;
agent of modernizing; agent of control atau meminjam istilahNurcholish Madjid mahasiswa adalah “
the nation’s is the best human material 1
maka tentu peran mahasiwa dalammewujudkan pendidikan politik yang bermoral menjadi sangatpenting.Dalam konteks pendidikan politik ini mahasiswa secara umummendapatkan pendidikan politik formal di bangku kuliah—terlebih lagi yang mengambil konsentrasi politik—sebab teori-teori umum politik telah diajarkan secara kontiniu. Kemudian,pendidikan politik ini juga diperkuat lagi dengan adanyalembaga-lembaga organisasi kampus, yang sepenuhnyamahasiswa di dalamnya dapat mengekpresikan politiknya.Namun, pendidikan politik ini dapat disebut gagal dalammewujudkan mahasiswa-mahasiswa yang dapat berpartisipasisecara baik dalam mempraktekkan perannya sebagai mahasiwayang disebut memiliki peran sosial tersebut. Bahkan, justerusebaliknya praktek-praktek politik mahasiswa—baik dilingkungan kampus atau di luar kampus—menunjukkan perilakupolitik yang sarat dengan kepentingan di dalamnya sebagaiindikasi lain gagalnya pendidikan politik di kalangan mahasiswa.Kegagalan pendidikan politik ini tentu saja berkaitan khususdengan kenyataan yang kita hadapi, yaitu hilangnya “uswah”dari para politisi tentang nilai atau etika politik. Untuk itu, tidakmengherankan terjadi karena memang “guru politik” parapolitikus tidak pernah berupaya untuk mengiklankan politik yangbermoral maka tentu saja wajar kalau mahasiswa jugamempraktekkan politik yang hampir sama.
Dalam konteks lain yang penting di kemukan di sini, kita bisamenyebut praktek politik mahasiswa tidak lebih hanya sebagai“alat penekan” yang dimanfaatkan kelompok tertentu, yangtidak lebih hanya untuk memenangkan kepentingan tertentupula. Inilah kenyataan yang harus kita akui maka tentu upayayang serius dan sungguh untuk menyelamatkan peranmahasiwa dari hal ini tentu adalah upaya reposisi peran dantanggung jawab mahasiswa sebagai bagian dari kelompok unitkampus, yang memiliki tugas utama untuk belajar dan politikhanyalah bagian dari aksesoris kehidupan mahasiswa.
2
Untuk itu, tidak terlalu mengherankan kalau banyak asumsimiris masyarakat terhadap pendidikan politik kita. Karenamemang harus diakui secara jujur pendidikan politik kita masihsangat buruk, maka hasil yang buruk dari pendidikan politik ini juga merupakan sesuatu konsekuensi logis dari kenyataan yangsesungguhnya yang harus kita terima. Sebab, tidak ada logikayang membenarkan sesuatu yang buruk akan menghasilkanyang baik.Melihat kenyataan ini, kaitannya dengan pendidikan politik yangbertujuan untuk mewujudkan masyarakat demokratis masihsangat jauh dari apa yang kita harapkan dalam mewujudkanmasyarakat demokrasi yang berwujudkan
free society 
yangtidak terikat apapun, yang hanya dibatasi oleh kebebasan itusendiri. Inilah sebenarnya tujuan utama dari pendidikan politiktersebut maka tentu memulai mempraktekkan pendidikan politikyang baik harus kita mulai dari diri kita sendiri.[z]

Nurcholish Madjid,
Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan
(Bandung: Mizan,2008), h. 179-180

Arief Budiman,
Kebebasan, Negara, Pembangunan: Kumpulan Tulisan 1965-2005
(Jakarta: Pustaka Alvabet dan Freedom Institute, 2006), h. 251.
\

Kode Etik Auditor Internal

Prinsip

Auditor internal diharapkan menerapkan dan menegakkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Integritas
Integritas auditor internal membangun kepercayaan dan dengan demikian memberikan dasar untuk landasan penilaian mereka.
2. Objektivitas
Auditor internal menunjukkan objektivitas profesional tingkat tertinggi dalam mengumpulkan, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi tentang kegiatan atau proses yang sedang diperiksa. Auditor internal membuat penilaian yang seimbang dari semua keadaan yang relevan dan tidak dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan mereka sendiri atau pun orang lain dalam membuat penilaian
3. Kerahasiaan
Auditor internal menghormati nilai dan kepemilikan informasi yang mereka terima dan tidak mengungkapkan informasi tanpa izin kecuali ada ketentuan perundang-undangan atau kewajiban profesional untuk melakukannya.
4. Kompetensi
Auditor internal menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang diperlukan dalam pelaksanaan layanan audit internal.

Aturan Perilaku

1. Integritas
Auditor Internal:
1.1. Harus melakukan pekerjaan mereka dengan kejujuran, ketekunan, dan tanggung jawab.
1.2. Harus mentaati hukum dan membuat pengungkapan yang diharuskan oleh ketentuan perundang-undangan dan profesi.
1.3. Sadar tidak boleh terlibat dalam aktivitas ilegal apapun, atau terlibat dalam tindakan yang memalukan untuk profesi audit internal atau pun organisasi.
1.4. Harus menghormati dan berkontribusi pada tujuan yang sah dan etis dari organisasi.
2. Objektivitas
Auditor Internal:
2.1. Tidak akan berpartisipasi dalam kegiatan atau hubungan apapun yang dapat mengganggu, atau dianggap dianggap mengganggu, ketidakbiasan penilaian mereka. Partisipasi ini meliputi kegiatan-kegiatan atau hubungan-hubungan yang mungkin bertentangan dengan kepentingan organisasi.
2.2. Tidak akan menerima apa pun yang dapat mengganggu, atau dianggap dianggap mengganggu, profesionalitas penilaian mereka.
2.3. Harus mengungkapkan semua fakta material yang mereka ketahui yang, jika tidak diungkapkan, dapat mengganggu pelaporan kegiatan yang sedang diperiksa.
3. Kerahasiaan
Auditor Internal:
3.1. Harus berhati-hati dalam penggunaan dan perlindungan informasi yang diperoleh dalam tugas mereka.
3.2. Tidak akan menggunakan informasi untuk keuntungan pribadi atau yang dengan cara apapun akan bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan atau merugikan tujuan yang sah dan etis dari organisasi.
4. Kompetensi
Auditor Internal:
4.1. Hanya akan memberikan layanan sepanjang mereka memiliki pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang diperlukan.
4.2. Harus melakukan audit internal sesuai dengan Standar Internasional Praktik Profesional Audit Internal.
4.3. Akan terus-menerus meningkatkan kemampuan dan efektivitas serta kualitas layanan mereka.
Versi bahasa Inggris.

Tanggung Jawab Audit Internal atas Fungsi-fungsi Lainnya (Non-audit)

Di dalam Standar 1130.A2 telah diatur bahwa penugasan assurance pada area-area di mana CAE memiliki tanggung jawab harus diawasi oleh oleh pihak di luar aktivitas audit internal. Dalam kaitan itu diatur lebih lanjut di dalam practice advisory bahwa:
1. Auditor internal tidak diperkenankan untuk menerima tanggung jawab atas fungsi-fungsi atau tugas-tugas non-audit yang secara periodik menjadi objek penilaian audit internal. Jika mereka harus menjalankan tanggung jawab atau tugas dimaksud, dengan sendirinya pada saat itu mereka sedang tidak berfungsi sebagai auditor internal.

2. Ketika aktivitas audit internal, CAE, atau auditor internal secara individu bertanggung jawab atas (temasuk ketika manajemen sedang mempertimbangkan menunjuk) tanggung jawab operasional yang berpotensi menjadi objek audit aktivitas audit internal, independensi dan objektivitas auditor internal terkait mungkin telah terganggu. CAE sekurang-kurangnya perlu mempertimbangkan faktor-faktor berikut dalam menilai dampak terhadap independensi dan objektivitas:
  • Hal-hal yang diatur dalam Kode Etik dan Standar.
  • Harapan para stakeholders, termasuk para pemegang saham, dewan direksi,manajemen, badan legislatif, badan publik, badan pengawas, dan kelompok kepentingan umum.
  • Kewenangan dan tanggung jawab yang termuat dalam piagam audit internal.
  • Pengungkapan yang diatur oleh Standar.
  • Lingkup audit atas kegiatan atau tanggung jawab yang dilakukan oleh auditor internal.
  • Signifikansi fungsi operasional terhadap organisasi (dalam pendapatan, biaya, reputasi, dan pengaruh).
  • Durasi atau lama penugasan dan ruang lingkup tanggung jawab.
  • Kecukupan segregasi tugas.
  • Apakah ada pengalaman sebelumnya atau bukti lain bahwa objektivitas auditor internal mungkin dapat terganggu.
3. Jika piagam audit internal telah mengatur pembatasan tertentu mengenai tugas/fungsi non-audit kepada auditor internal, maka hal tersebut perlu diungkapkan dan didiskusikan manajemen. Jika manajemen bersikeras untuk memberikan penugasan tersebut, maka perlu eskalasi pengungkapan dan diskusi hal ini dengan Dewan. Namun jika piagam audit internal tidak mengatur mengenai hal tersebut, maka pedoman berikut ini dapat digunakan.
4. Apabila aktivitas audit internal menerima tanggung jawab operasional dan operasi tersebut merupakan bagian dari rencana audit internal, CAE harus:
  • Meminimalkan gangguan objektivitas dengan menggunakan auditor kontrak, entitas pihak ketiga atau auditor eksternal.
  • Memastikan bahwa individu dengan tanggung jawab operasional tidak dilibatkan dalam audit internal operasi yang bersangkutan.
  • Memastikan bahwa auditor internal yang melakukan penugasan assurance disupervisi oleh, dan melaporkan hasil penugasan, kepada manajemen senior dan Dewan.
  • Mengungkapkan tanggung jawab operasional auditor internal untuk fungsi tersebut,tingkat pentingnya operasi tersebut untuk organisasi (dalam hal pendapatan, biaya, atau informasi terkait lainnya), serta hubungan dengan orang-orang yang melakukan audit.
5. Tanggung jawab operasional auditor ini perlu diungkapkan dalam laporan audit dan juga dalam komunikasi standar auditor internal kepada Dewan. Hasil audit internal juga perlu dibicarakan dengan manajemen dan/atau stakeholder yang dipandang perlu lainnya . Pengungkapan gangguan objektivitas ini tidak meniadakan persyaratan bahwa penugasan assurance terhadap fungsi dimana CAE bertanggung jawab harus diawasi oleh pihak di luar aktivitas audit internal.
Referensi :
  • Practice Advisory #1130.A2-1 IPPF Jan 2009

Standar Internasional untuk Praktik Profesional Auditor Internal (SIPPAI)

Standar adalah prinsip-prinsip yang menyediakan kerangka kerja bagi pelaksanaan audit internal. Standar adalah persyaratan wajib (mandatory), yang terdiri dari Pernyataan (Statement) dan Interpretasi. Pernyataan adalah persyaratan dasar atau minimal bagi praktik profesional audit internal sekaligus untuk mengevaluasi efektivitas kinerjanya.
Persyaratan ini berlaku secara internasional baik pada tingkat organisasi maupun individu. Sedangkan Interpretasi menjelaskan lebih lanjut istilah atau konsep tersebut dalam Pernyataan terkait. Pernyataan dan Interpretasi harus digunakan secara bersama-sama untuk memahami dan menerapkan standar dengan benar. Standar menggunakan istilah yang telah diberikan makna secara spesifik yang disertakan dalam Daftar Istilah (Glossary).
Standar terbagi dalam seksi-seksi sebagai berikut:
  • Pendahuluan
  • Standar Atribut, yaitu Standar yang berkaitan dengan karakteristik organisasi dan pihak-pihak yang melakukan kegiatan audit internal.
  • Standar Kinerja, yaitu Standar yang menjelaskan sifat dari kegiatan audit internal dan sebagai kriteria evaluasi kinerja.
  • Daftar Istilah

Sitoresmi Mengenang Rendra di Kendal

KENDAL,KOMPAS.com--Dewan Kesenian Kendal Jawa Tengah, bekerja sama dengan forum kantong-kantong Budaya Kendal, menggelar peringatan Hari Kebudayaan Nusantara, Rabu (7/11) malam.
Acara yang diberi tema, "Mengenang Ws Rendra" tersebut digelar di Pendopo Kabupaten setempat, dengan mendatangkan mantan istri WS. Rendra, Sitoresmi, sahabat Rendra, Untung Basuki dan penyair asal Semarang, Timur Sinar Suprabana.
"Acara kami kemas dengan pembacaan puisi dan musikalisasi puisi karya-karya Rendra," kata Agus Susanto, koordinator acara.
Agus menambahkan, selain Sitoresmi yang membacakan puisi "Khotbah" karya Rendra dan Timur yang membacakan beberapa puisi karya si 'Burung Merak' di antaranya, "Nyanyian Angsa" tersebut, juga tampil kepala Dinas Pendidikan, Muryono dan ketua Ansyor Kendal, Wahidin Said.
"Para seniman Kendal juga ikut tampil membacakan puisinya Rendra," lanjutnya.
Sementara itu, sebelum membaca puisi "Kotbah", Sitoresmi menceritakan, bahwa Rendra adalah seniman dan budayawan besar yang dimiliki Indonesia. Sito mengaku bangga bisa pernah menjadi istrinya. "Saya menikah dengan Rendra pada tahun 1970. Sembilan tahun kemudian terpaksa saya harus berpisah, setelah melahirkan 4 anak dari perkawinannya dengan Rendra," kata Sito.
Ia mengatakan, Rendra masuk Islam bukan karena menikah dengan dirinya. Sebab saat Rendra melamar dirinya, almarhum masih non Islam. Tapi Sito mengaku terkejut, saat ijab khobul, Rendra mengucapkan dua kalimat sahadat. "Setelah Rendra meninggal, saya baru ketahui kalau ternyata dia sudah masuk Islam 1 bulan sebelum menikah dengan saya. Jadi Rendra masuk Islam bukan karena saya," akunya.

Warga NU Tuntut Gelar Pahlawan untuk Gus Dur

SURABAYA, KOMPAS.com — Belasan warga Nahdiyin dari berbagai elemen, seperti PKB, Garda Bangsa, Pergerakan Perempuan Kebangkitan Bangsa, Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa (Gemasaba) menggelar aksi di atas Jembatan Merah Surabaya, Jumat (9/11/2012).
Mereka menuntut pemerintah untuk menganugerahkan gelar pahlawan kepada Abdurrachman Wahid alias Gus Dur.
Menurut Ketua Garda Bangsa Jatim, Zaini Nashiruddin, figur Gus Dur cukup relevan sebagai pemilik gelar pahlawan.
"Gus Dur dalam perjuangannya merumuskan kembali ajaran-ajaran tentang pentingnya menjaga kesatuan dan persatuan dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia)," katanya.
Mantan Presiden RI keempat itu, kata Zaini, adalah putra bangsa yang selalu saja mengabdikan dirinya kepada negara, bangsa, dan agama.
"Dengan semangat mengayomi seluruh rakyat Indonesia, tidak pandang dari agama apa, suku mana, ras apa saja, Gus Dur tidak akan tinggal diam ketika mereka termarjinalkan, tertindas, dan tidak diakui keberadaannya," tuturnya.
Dalam aksinya, selain berorasi, mereka juga melakukan ritual menabur bunga ke arah sungai di bawah Jembatan Merah. Aksi itu sekaligus sebagai aksi refleksi Hari Pahlawan 10 November.
Jembatan Merah adalah saksi sejarah pertempuran 10 November di Surabaya. Ratusan pejuang dari Arek-arek Suroboyo diceritakan tewas dan masuk ke sungai di bawah Jembatan Merah. Darah yang bercucuran di atas jembatan tersebut yang membuat jembatan itu dinamakan Jembatan Merah.

Sumber

GUS DUR DAN MASALAH PAPUA

(SEBUAH REFLEKSI GUSDURian: Wahid Institute, Jumat, 6 Des 2012)
Ahmad Suhendra[*] 

umat diterapkan pula dalam kepemimpinan beliau di istana. Contoh kecil adalah istana yang semula dianggap ‘angker’ dengan kesehajaan beliau istana menjadi ‘rumah’ bagi semua rakyat Indonesia, dari mulai kiai, santri, sampai orang kampung. Memang semestinya demikian, Istana bukanlah milik presiden tetapi milik rakyat.
Sebagai seorang hamba yang sangat peduli dengan masalah kemanusiaan, beliau sangat membela kaum minoritas dan tertindas oleh penguasa atau sekelompok lain yang mayoritas, tanpa mempertimbangkan suku, agama, ras dan kelas sosial.
Papua Masa Pemerintahan Gus Dur
Saat Gus Dur menjadi Presiden Papua lebih bergejolak dan parah dibanding sekarang. Namun, dengan kepemimpinan beliau yang menjadikan aspek kultural sebagai pendekatan, masyarakat Papua dapat mengurungkan niatnya untuk merdeka. Bahkan, banyak bendera bintang kejora yang dikibarkan pada saat itu, tetapi aparat tidak melakukan tindakan kekerasan seperti saat ini.
Maksud dari tidak terlalu dilarangnya pengibaran Bintang Kejora adalah untuk tidak mengsakralisasi simbol kebudayaan masyarakat Papua. Secara antropologis, Bintang Kejora memang merupakan simbol kebudayaan masyarakat adat yang berada di Papua. Apakah akan mengganggu kebhinekaan Indonesia jika mereka h
anya ingin mengibarkan identitas kultural masyakat Papua. Justru, ketika pelarangan pengibaran bendera Bintang Kejora, mereka a

an mensakralkan simbol tersebut.
Selain itu, dalam kabinetnya Gus Dur juga membentuk Menteri Penangan Indonesia Timur, yang dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah sosial di wilayah timur Indonesia, khusunya Papua atau dulu be
rnama Irian Barat. Kementrian yang dibentuk Gus Dur ini dinilai efektif dalam meredam ‘api’ kekecewaan masyarakat timur Indonesia, khususnya Papua. Dengan gaya kepemimpinan yang santun, sederhana, tapi tegas Gus Dur dianggap ‘penyelamat’ oleh masyarakat Papua. Bahkan, ketika perayaan haul beliau, tokoh-tokoh adat di Papua datang ke Jakarta untuk melaksanakan prosesi/upacara adat kepada beliau yang diwakili oleh anak kedua beliau, Yenni Wahid.
Upacara adat itui dimaksudkan bahwa Gus Dur dan keluarganya sudah diikat dalam masyarakat Papua. Jadi, Gus Dur dan keluarga sudah dianggap sebagai masyarakat papua atau keluarganya sendiri oleh para tokoh adat Papua. Begitu terhormatnya Gus Dur di mata masyarakat Papua, sekali lagi bagi mereka Gus dur adalah juru penyelamat. Itulah model kepemimpinan ala Gus Dur yang semestinya dilakukan juga oleh presiden dan pemerintah daerah sekarang. Namun, kita menyaksikan pemerintah saat ini melupakan, jika tidak dikatakan meninggalkan, pendekatan kultural yang dicontohkan Gus Dur pada saat itu. Pendekatan kultural ini terbukti lebih efektif dan tepat untuk menyelesaikan permasalahan sosial di masyarakat, terutama masalah Papua. Pendekatan kedua, adalah pendekatan agama, pendekatan ini semestinya menjadi win-win solution, tetapi agama selalu ditunggangi kepentingan politik dan ekonomi. Sehingga banyak kisruh yang mulanya masalah keluarga, masalah sengketa tanah, dan masalah sosial lainnya dibesar-besarkan atau yang muncul kepermukaan wacana adalah masalah agama.
Ungkapan terakhir, selamat Jalan Gus, dan Engkau memang Makhluk Tuhan, yang tidak ‘merebut’ Kekuasan-Nya, engkau hanya menjalankan apa yang diperintah-Nya, yakni sebagai pengayom dan pembela kemanusiaan.
Doa dan harapan ini terus dibangun untuk membangun masyarakat Indonesia yang lebih bermartabat.
[*] Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan  GUSDURian (pamula).
pernah dipublikasikan dalam:

https://www.facebook.com/notes/ahmad-el-bughury/mengkaji-gus-dur-perspektif-orang-papua-sebuah-refleksi-gusdurian/10150505567871112

No NRBU Nama
Proses
1. 9809 ADIL, CV
4
2. 9806 AL- FARUQ, CV
4
3. 9540 AN NAMA, CV
4
4. 9532 BANGKIT ARISKA, CV
4
5. 10080 BUMI MAHARDIKA UTAMA, PT
4
6. 9531 BUMI MUKTI NUGRAHA, CV
1
7. 9538 CAHAYA RIZKI, CV
4
8. 10993 CEMPAKA INDORAYA, CV
4
9. 9828 INDOTUHING, CV
4
10. 9541 JAYA MUSTIKA, CV
4
11. 9731 KARYA EFFECTIVE, CV
4
12. 9732 KARYA LAKSANA, CV
4
13. 9535 LAKSANA MANDIRI, CV
4
14. 9808 MANDALA KARYA,CV
4
15. 9536 MITRA USAHA MANDIRI, CV
4
16. 9827 PERMATA HIJAU, CV
4
17. 10647 PRISMA MANDIRI, CV
4
18. 9805 PUTRA PERDANA, CV
4
19. 9539 SALWA KARYA UTAMA, CV
4
20. 11871 WAHYU PERKASA, CV
4

Sejarah Wonosobo

Bedasarkan cerita rakyat , pada sekitar awal abad 17 tersebutlah tiga orang pengelana masing-masing bernama Kyai Kolodete, Kyai Karim dan Kyai Walik , mulai merintis suatu permukiman di daerah Wonosobo. Selanjutnya Kyai Kolodete berada di dataran tinggi Dieng, Kyai Karim berada di daerah Kalibeber dan Kyai Walik berada di dekitar kota Wonosobo sekarang ini.

DI kemudian hari dikenal beberapa tokoh penguasa daerah Wonosobo seperti Tumenggung Kartowaseso sebagai penguasa daerah Wonosobo yang pusat kekuasaannya si Selomanik. Dikenal pula tokoh bernama Tumenggung Wiroduta sebagai penguasa Wonosobo yang pusat kekuasaannya di Pecekelan - Kalilusi, yang selanjutnya dipindahkan ke Ledok - Wonosobo atau Plobangan sekarang ini.

Salah seorang cucu Kyai Karim juga disebut sebagai salah seorang penguasa Wonosobo. Cucu kyai karim tersebut dikenal sebagai i Singowedono yang telah mendapat hadiah satu tempat di Selomerto dari Keraton Mataram serta diangkat menjadi penguasa daerah ini namanya berganti menjadi Tumenggung Jogonegoro. Pada masa ini Pusat kekuasaan dipindahkan ke Selomerto. Setelah meninggal dunia Tumenggung Jogonegoro dimakamkan di desa Pakuncen.

Selanjutnya pada masa perang Diponegoro ( 1825 - 1930 ) , Wonosobo merupakan salah satu basis pertahanan pasukan pendukung Diponegoro. Beberapa tokoh penting yang mendukung perjuangan Diponegoro adalah Imam Musbch atau kemudian dikenal dengan nama Tumenggung Kertosinuwun, MAs Lurah atau Tumenggung Mangkunegaran, Gajah Permodo dan Kyai Muhamad Ngarpah.

Dalam pertempuan melawan Belanda, Kyai Muhamad Ngarpah berhasil memperoleh kemenangan yang pertama. Atas keberhasilan itu Pangeran Diponegoro memberi nama kepada Kyai Muhamad Ngarpah dengan sebutan Tumenggung Seconegoro. Selanjutnya Tumenggung Seconegoro diangkat sebagai penguasa Ledok dengan gelas TUMENGGUNG SECONEGORO.

Eksistensi kekuasaan Seconegoro di daerah Ledok ini dapat dilihat lebih jauh dari berbagai sumber termasuk laporan Belanda yang dinuat setelah perang Diponegoro selesai. Disebutkan pula bahwa Seconegoro adalah Bupati yang memindahkan pusat kekuasaan dari Selomerto ke kawasan kota Wonosobo sekarang ini.

Dari hasil seminar AHri Jadi Wonosobo tanggal 28 April 1994, yang dihadiri oleh Tim Peneliti dari Fakultas Sastra UGM, Muspida, Sespuh dan Pinisepuh Wonosobo termasuk yang ada di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Pimpinan DPRD dan Pimpinan Komisi serta Instansi Pemerintah Wonosobo yang telah menyepakati bahwa Hari Jadi Wonosobo jatuh pada tanggal 24 Juli 1825.

Adapun penguasa/kepala pemerintahan Kabupaten Wonosobo dari tahun 1825 sampai dengan sekarang adalah sebagai berikut :

1. Tumenggung R. Setjonegoro ( 1825 - 1832 )
2. Tumenggung R. MangoenKoesoemo ( 1832 - 1857 )
3. Tumenggung R. Kertonegoro ( 1857 - 1863 )
4. Tumenggung R. Tjokrohadisorjo ( 1863 - 1889 )
5. Tumenggung R. Soeryohadikoesoemo ( 1889 - 1898 )
6. Tumenggung R. Soerjohadinagoro ( 1898 - 1919 )
7. Adipati RAA Sosrodiprodjo ( 1920 - 1944 )
8. Bupati R. Singgih Hadipoero ( 1944 - 1946 )
9. Bupati R. Soemindro ( 1946 - 1950 )
10. Bupati R. Kadri ( 1950 - 1954 )
11. Bupati R. Oemar Soerjokoesoemo ( 1955 )
12. Bupati R. Sangidi Hadisoetirto ( 1955 - 1957 )
13. Kapala Daerah Rapingoen Wiombohadi Soedjono ( 1957 - 1959 )
14. Bupati R. Wibowo Helly ( 1960 - 1967 )
15. Bupati KDH Drs. R. Darodjat A.N.S ( 1967 -1974 )
16. Pj. Bupati KDH R. Marjaban ( 1974 - 1975 )
17. Bupati KDH Drs. Soekanto ( 1975 - 1985 )
18. Bupati KDH Drs. Poedjihardjo ( 1985 - 1990 )
19. Bupati KDH Drs. H. Soemadi ( 1990 - 1995 )
20. Bupati KDH Drs. Margono ( 1995 - 2000 )
21. Bupati KDH Drs. Trimawan Nugrohadi ( 2001 - 2005 )


Sumber
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BLOG' 'E MIFTAKHURROKHIM - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger